Sidoarjo: Dari Tebu Jadi Lumpur

315843_10150313422237891_505629755_n
Lumpur Lapindo Sidoarjo (Dok: Rika Isvandiary)

Sidoarjo, Januari 2009

Kereta malam. Kuyup dalam basuhan hujan sejak petang tadi. Padi tak terlihat jelas diantara gelap. Hanya kelap kelip lampu sederhana yang menggantung di teras rumah. Imaji kembali mengukir peristiwa. Menelusup lorong fana yang seringkali memaksa hadir. Berganti rupa menjadi ruang-ruang tanpa daya.

Bila saja dapat diterka warna tanah yang ada di malam ini, atau sekedar mencium baunya yang tersamar rintik hujan. Adakah di sana, di tempat itu kau cium aroma serupa? Paduan wangi air dan tanah yang khas, ataukah kau hirup udara sesak yang menumpuk di sanubari?

Kota ini begitu berkesan saya. Rumah saya ada di sini. Sidoarjo, kota yang sekarang terkenal dengan simbol Bandeng Lele ini menyimpan sejarah panjang. Sidoarjo kota delta. Pesisir utara yang mengukit perjalanan industri era kolonial. Ingata saya bertumpu pada si manis Sanikem. Perempuan asli Sidoarjo yang menjadi “simpanan” pengusaha tebu, Herman Malemma.

Lewat Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, dunia mengenalnya dengan Nyai Ontosoroh. Ibunda dari Annelise, sang bunga penutup abad yang mati sebab putus cinta dan terpisah jauh dari ibunya. Tetapi ibunya, Nyai Ontosoroh adalah perempuan yang kuat. Nyai yang digambarkan selalu anggun dengan kebaya encim dan kain batik kembang setaman ini pernah menggantikan suaminya memimpin usaha tebu dan gula.

Papa menjemput saya di bandara. Seumur-umur, saya tidak pernah ke Sidoarjo. Mama dan Kak Suzana juga ikut menemani saya. Kami mengobrol di rumah. Papa saya adalah seniman yang sangat idealis. Asli Manado. Buyut saya, konon Kepala Suku Mogot di Sulawesi Utara yang terlibat perang antar suku.

Hampir seluruh anaknya dibunuh. Hanya tinggal satu anak yang tersisa, dialah Opa saya tercinta. Agar Keturunan Kepala Suku yang sah bisa diselamatkan, Buyut Daan Mogot melarikan Opa ke Jakarta. Aneh sekali, sampai sekarang saya belum pernah melayat makamnya Daan Mogot, meski namanya menjadi jalanan panjang penghubung Jakarta dan Tangerang.

Begitulah, sampai akhirnya Opa menikah dengan Oma Vonnie, Oma saya tercinta. Saya hanya pernah bertemu Oma yang senang membawa brownies. Saya tidak pernah bertemu Opa yang sudah meninggal.

Oma Vonnie juga Manado, tetapi ada keturunan Belanda saya kira. Ini terlihat jelas dari wajahnya. Oma Vonnie adalah sahabat Ivone, mama angkat saya. Mereka akrab sekali. Mungkin karena sama-sama keturanan Belanda-Manado. Bila bicara, mereka menggunakan bahasa Belanda.

Sementara mama kandung saya asli Surabaya. Anak santri yang alim dan sholihah. Berbeda terbalik dengan papa yang jebolan IKJ. Saya rasa mereka tidak mampu menghalau perbedaan budaya, agama dan kebiasaan masing-masing. Bukankah menikah juga menyatukan dua keluarga dan budaya?

Ah, akhirnya saya sempat dibawa pergi ke Jakarta. Mama kandung saya tidak tahu keberadaan saya sampai saya berusia 5 tahun. Saat dia tahu, dia tak sampai hati memisahkan saya dari Ivone. Maka selama bertahun-tahun, hingga saat ini, saya dibiarkan besar di jakarta.

Mengenang masa silam ternyata tak selamanya buruk. Seperti kaca spion yang sesekali harus dilihat agar kita sadar jarah dan arah, maka merenung apa yang telah lampau setidaknya memberi kita sedikit gambaran akan perjalanan hidup kita sendiri.

Tentu saja, sebelum kita menentukan hendak kemana kita pergi, kita mesti insaf terlebih dahulu, dimanakah kita berada kini? Tidak ada satu pun yang saya sesali dari garis hidup saya. Malah saya bersyukur, punya banya cerita. Saya bersyukur untuk hidup penuh kisah dan gairah hingga saya tak pernah merasa jemu. Tak terasa lelah merambat, saya tertidur dalam renungan bisu.

Esoknya, Mobil dipacu melesat ke arah Porong. Sepanjang perjalanan, saya hanya terpaku pada lamunannya sendiri. Di kota ini, ratusan tahun lalu telah menjadi satu pusat pergerakan kaum tani dan buruh. Tebu dan gula tak hanya sekedar menjadi komoditas, tapi juga pergulatan dan perjuangan.

Bagaimanapun juga gula pernah jadi simbol kekuatan modal di Jawa Timur. Kehadiran  Suiker wet  (undang-undang gula) menjelang tahun 1870 tentu cukup menggambarkan kalau gula adalah komoditi yang menggiurkan di zaman kolonial.

Frans De Putte, si mantan pengusaha gula di Jawa Timur itu berhasil juga menjadi menteri kolonial di Netherland sana. Dia ingin sedikit melindungi hak-hak pribumi dengan rancangan undang-undang cultuurwet.

Tidak bisa dielakkan, bahwa rakyat Indonesia terpuruk habis-habisan sejak tanam paksa diberlakukan Van den Bosch tahun 1830. Rakyat dipaksa menanam komoditi yang laku di pasaran. Khusus pulau Jawa, dibentangkan berhektar-hektar perkebunan tebu. Mereka mengubah perkebunan tebu sebagai lahan emas penghasil uang. Seperti pepatah dalam istilah mereka, ‘tanah Jawa adalah gabus yang membuat negeri Belanda tetap mengapung.

Demi kembali meraup keuntungan besar, Van den Bosch menerapkan tanam paksa. Sebuah kebijakan yang tidak terlalu berbeda dengan sewa tanah ala Raffles. Sama-sama menjadikan ‘domein verklaring’ sebagai senjata ampuh merampas tanah rakyat.

Sedikit berbeda dengan konsep Raffles, tanam paksa tidak meminta pemilik tanah untuk membayar pajak ataupun sewa, akan tetapi 1/5 dari tanah yang dimiliki harus ditanam dengan tanaman yang telah ditetapkan Pemerintah Kolonial. Dapat dipastikan kebijakan ini menjadi satu titik penting yang tak terlupakan dari sejarah panjang perkebunan di Indonesia.

Memang perkebunan tebu di Jawa Timur telah hidup sebelum tahun 1830, namun dengan didukung adanya kebijakan tanam paksa, maka perhatian terhadap perkebunan tebu kian mendapat porsi utama. Hal ini menjadikan Jawa Timur sebagai daerah pertama di Indonesia yang terkena dampak revolusi Industri.

Sebelum tahun 1830, seluruh perkebunan tebu masih mengandalkan tenaga binatang. Setelah tanam paksa dilancarkan, berbagai mesin canggih untuk pengelolaan pabrik gula didatangkan dari Eropa.

Sejak tahun 1830-1840 berdiri sejumlah pabrik gula di kerasidenan Surabaya. Nilai ekspor gula dari Hindia pada tahun 1840 mencapai 77,4 % dari jumlah seluruh ekspor, pada 1830 masih mencapai  66%. Keberadaan perkebunan tebu dan pabrik gula yang ‘lapar tanah’ menyebabkan tanah produksi rakyat terampas dan berakibat pada perubahan sosial. Sebuah kenyataan pahit, perubahan yang terjadi berbuah pemborantakan di distrik Gedangan Sidoarjo.

Ekspansi gula yang gila-gilaan tidak hanya menerpa Surabaya dan sekitarnya tetapi pulau Jawa secara keseluruhan. Hingga tahun 1929 sebanyak 180 pabrik memproduksi 3 juta ton gula, mempekerjakan 60.000 buruh tetap dan 700.000 buruh musiman. Bisa jadi ini salah satu efek dari berlakunya Agrarische Wet di tahun 1870 yang merombak Pulau Jawa sebagai hamparan kebun besar untuk kepentingan pemilik modal.

Pemberontakan akibat gula yang terjadi ratusan tahun lalu berulang lagi di tahun 2000. peristiwanya terjadi tahun 2000 saat gula import membanjiri pasar Indonesia.  Assosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) melakukan demonstrasi menentang masuknya gula import.

Kurang lebih ada 2 juta ton gula import yang masuk, ini belum termasuk gula seludupan dan illegal. Sebenarnya sangat mudah membedakan gula import dari Thailand atau Brasil, selain ada cap Negara asal, gula import juga lebih putih dari gula Indonesia.

Baru saja petani tebu terbebas dari Tebu Rakyat Intensifikasi yang diberlakukan pada Orde Baru melalui Inpres Nomor 9 Tahun 1975. Ternyata petani terpaksa harus menelan pil pahit setelah adanya letter of intent antara Pemerintah dan IMF yang membebaskan bea masuk impor gula. Alhasil pasar lokal kebanjiran gula impor. APTR lantas melakukan perlawanan dengan mencegat beberapa truk yang membawa gula impor.

Sampai kapan kakak akan melamun di sini?” Mobil rupanya sudah berhenti sejak beberapa menit lalu. Mereka sampai di tempat Lumpur Lapindo dan Gita, adik saya mulai bosan menunggu.

Saya meringis melihat Gita yang mulai bosan, “maaf…ayo kita ke sana

Maka disinilah kami berada. Tergugu melihat jalan tol yang terbelah. Ada yang aneh dengan jalan tol itu. Tak seperti jalan Tol pada umumnya, jalan bebas hambatan yang menghubungkan Sidoarjo-Gempol telah hilang sebagian.

Pintu keluar tol yang harusnya berakhir di Gempol, dipangkas hanya sampai Porong. Terlihat jelas bekas alat berat yang memang sengaja digunakan untuk memotong jalan tersebut. Di hadapan jalan tol yang terpotong, kereta api Surabaya-Malang melaju dengan was-was. Aliran lumpur panas beberapa kali menggenangi rel, hingga tak dapat dilewati kereta api listrik.

Tepat di sebelah rel kereta, tanggul besar tiga tingkat berdiri tegap. Cukup sulit untuk mendakinya. Warga sekitar membuat anak tangga dari bambu untuk menaiki tanggul. Ada tiga tingkat tangga bambu yang disediakan untuk mencapai puncaknya.

Sayang, tak ada yang gratis. Takdir yang menimpa para korban di sana membuat mereka terpaksa menjadikan area ini sebagai objek wisata yang mendatangkan keuntungan. Tak mahal biaya yang dikenakan, hanya sekitar Rp. 1.500,00.

Tampak seorang ibu begitu setia menyapa setiap orang yang hadir. Name tag yang menggantung dilehernya mengakabarkan nama sosoknya. Perempuan itu menjajakan VCD tentang letupan lumpur lapindo. Setelah lahan mereka hilang, praktis hanya ini saja yang dapat mereka lakukan untuk bertahan hidup.

Sementara tanggul terus dibangun. Mega proyek baru telah diusung. Bisnis masih terus menggeliat diantara bencana yang terserak. Truk-truk berjejer seperti jeruji yang menahan para napi menghirup udara bebas. Tidak tahu lagi, harus seberapa tinggi tanggul ini dibuat. Bagi warga, proyek pembuatan tanggul tak lebih dari perputaran uang di kalangan pengusaha.

Mungkin mereka percaya kata-kata pengamat dalam bidang bencana, bahwa proyek rekonstruksi tak ubahnya seperti burung Nazar, ketika korban sudah tak berdaya, maka pada saat itu pulalah burung-burung Nazar mematuki dan menggerogoti bangkai korban. Pun penanganan lumpur lapindo sidoarjo, pada akhirnya menjadi rebutan perusahaan besar yang ingin turut bermain.

Beberapa waktu lalu, kabarnya sebuah perusahaan melakukan gerilya kepada warga di desa Renokenongo. Mereka membujuk warga untuk mau menjual tanahnya. Sebelumnya pada tahun 2005, perusahaan tersebut sudah lebih dulu mendekati warga desa Siring untuk mau menjual tanahnya untuk lokasi pemboran. Tetapi presentasi dan tawaran perusahaan ditolak mentah-mentah oleh warga desa Siring.

Mereka mencoba lagi di desa Jatirejo. Tetapi kembali mengalami kegagalan. Satu upaya dilakukan lagi di desa Renokenongo. Kali ini perusahaan beralasan bahwa tanah yang dibeli dari warga akan dijadikan peternakan ayam. Bulan Maret 2006 perusahaan sukses membujuk warga desa Renokenongo untuk menjual tanahnya.

Bukan tanpa alasan warga Renokenongo menjual tanahnya. Antara desa Renokenongo dengan lahan pertanian terpisah oleh jalan tol. Ini membuat warga sulit mengolah tanah. Warga  harus bertarung nyawa menyebrang di jalan tol setiap harinya. Bukan pilihan mudah. Belum lagi jika ada polisi, tentu  tidak akan diizinkan untuk menyebrang.

Warga serba salah. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi di bekas tanah warga. Pihak perusahaan menutupnya dengan seng. Dulu mereka bilang untuk ternak ayam, tapi warga sering mendengar bunyi sirene setiap jam 10.00 pagi. Sampai akhirnya mimpi buruk datang menimpa.

Pagi itu, 29 Mei 2006, warga melihat asap putih dari arah bekas tanahnya dahulu. Tepat 12.00 WIB terjadi semburan lumpur setinggi pohon. Malamnya pihak perusahaan menyatakan tidak ada kejadian yang fatal, warga diminta tenang dan perusahaan akan bertanggungjawab atas semua kerugian materil. Tetapi yang menggelikan, para pekerja telah dievakuasi sejak pukul 10.00 pagi. Ini berarti perusahaan sudah tahu, bahwa akan terjadi bahaya besar.

Akibat semburan lumpur panas, hingga Agustus 2009, Lahan dan ternak yang tercatat terkena dampak lumpur antara lain: lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring; lahan padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo, Kedungbendo, Sentul, Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon; serta 1.605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang”

Sampai akhir tahun 2006 saja, proses penanggulangan lumpur  meliputi empat bagian yang meliputi proyek pembuatan tanggul, pembuangan lumpur ke sungai porong, pembuatan drainase dan penghentian semburan lumpur. Namun hingga tahun 2009, belum ada solusi jitu yang mampu mengatasi masalah ini secara menyeluruh. Sedang transparasi biaya proyek penanggulangan tidak dapat secara mudah diakses oleh warga.

Kami menyewa dua motor untuk mengelilingi area terdampak yang tak mungkin dijelajahi dengan berjalan kaki. Setiap memasuki satu desa, sudah ada kerumunan orang yang berjaga dan meminta uang untuk masuk. Mereka sampai di lumpur yang mulai mengering. Ada menara di sana yang bisa dijangkau hingga beberapa meter ke atas.

Sebenarnya agak sedikit mengerikan, karena lumpur masih gempur dan mudah membuat kaki terjebak. Meski begitu, sayang rasanya jika tak naik ke atas menara. Kami  pelan-pelan meniti tangga menara dan sampai di tempat paling atas. Pusat semburan terlihat jelas dari sana. Masih terus ‘berdenyut’ dan enggan berhenti.

Entah sampai kapan semua ini berakhir. Nun jauh di sana, atap masjid masih terlihat. Hanya tinggal atapnya saja. Bangunan lainnya sudah hilang terendam lumpur. Sidoarjo sebagai kota tebu sudah punah. Kini Sidoarjo adalah kota lumpur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s