Perjalanan Gresik (5): Sarang Burung Wallet dan Wakaf Tambak Lele

muniroh 5
Tambak lele wakaf produktif (Dok: Rika Isvandiary)

Ujungpangkah, Desember 2010

Fajar merekah di Ujungpangkah. Menyambut Subuh yang mendekap hangat tubuh nan dingin. Suara tilawah berakhir dengan kumandang adzan. Lembut bayu membelai sukma. Seperti sentuhan ibu yang membangunkan ananda untuk shalat berjamaah.

Kami merapikan shaf dan berjamaah di Surau. Mendaras Al Qur’an sebentar. Santri bergegas menuju kamar mandi. Tak lama kericuhan terjadi. Ada yang mencari baju. Ada yang mencari buku. Ada pula yang menanyakan sepatu. Ribut sekali. Barulah setengah jam kemudian suasana menjadi hening. Santri sudah berangkat sekolah.

Kamar mandi sudah kosong. Saya bisa bergerak lebih leluasa. Airnya segar sekali. Usai mandi saya keluar dari pondok putri. Yahya, suami Aisyah ada di pekarangan. Dia sedang membuat kandang  bebek.

“Assalamualaikum, Mba” Kyai Zakaria menyapa saya dengan ramah. Pagi-pagi begini beliau yang sudah sepuh masih sempat melihat-lihat tambak lele dan patin.

Saya menghampiri beliau ke dekat tambak lele, “Waalaikumsalam Warrahmatullohi Wabarrakatu….sepagi ini Pak Kyai sudah ada di tambak?

Kyai Zakaria tersenyum ramah, “iya…melihat-lihat tambak sebentar. Ibu Nyai malah sudah berangkat. Mungkin baru besok Mba bisa ngobrol dengan Ibu Nyai

Ibu Nyai adalah panggilan untuk istri Pak Kyai pengelola Ponpes. Ini jamak di Jawa Timur. Kebetulan Ibu Nyai juga anggota DPRD Kabupaten Gresik. Beliau sibuk sekali. Sebenarnya Ibu Nyai itulah yang menjadi keturunan langsung pendiri Ponpes ini. Namun, Ibu Nyai memberikan kepercayaan pada Kyai Zakaria untuk mengelola Ponpes.

Saya menghamburkan pandangan ke pekarangan belakang Ponpes yang sangat luas. Ada lebih dari sepuluh tambak lele, lima tambak patin, kandang bebek yang bisa menampung 50 bebek, kandang kambing yang berisi lebih dari 10 kambing dan kandang ayam potong yang berjumlah lebih dari 100 ekor. Peternakan ini dikelola oleh beberapa orang mantan santri yang sedang mengabdi di Ponpes.

Berapa orang yang bekerja di sini, Kyai?” tanya saya setelah beberapa lama terdiam mengamati pekarangan belakang Ponpes.

Pak Kyai melihat ke sekeliling, “ada tiga orang mantan santri yang mengabdi di sini. Masing-masing mendapat gaji bulanan. Tapi kalau yang mengantar hasil panen sering juga santri dewasa

Saya mengikuti Kyai Zakaria menyusuri jalanan kecil di tengah-tengah tambak. Seorang pekerja melempar pakan ternak. Puluhan ikan lele langsung melompat. Agresif menangkap mangsa. Saya sampai takut melihatnya.

Banyak sekali ikan lele dan patin di sini ya…” ujar saya lagi.

Kyai Zakaria tersenyum, lalu menoleh ke arah saya. “Ini saya sedang siapkan kolam untuk 15.000 benih ikan lele. Kemarin dalam waktu empat bulan kami bisa menyebar 10.000 benih ikan lele. Nah ikan lele yang sudah besar dan siap panen harus dipisah kolamnya. Sekarang bukan ikan lele saja yang diminati, tapi juga ikan patin, makanya kami juga budidaya ikan patin.

Terus pakan ternaknya beli di mana, Kyai?” saya makin semangat menggali lebih dalam pengelolaan wakaf produktif di Ponpes ini.

Kyai Zakaria juga antusias, “saya buat sendiri untuk menghemat biaya operasional. Pakan ternak dibuat dari limbah udang dan ikan. Kualitasnya gak kalah dengan pakan ternak yang ada di pasar-pasar

Saya menatap kagum Kyai Zakaria. Beliau tak pernah sekolah pertanian apalagi ekonomi atau bisnis. Tapi jiwa entrepreneur-nya tumbuh secara alami. Demi menunjang biaya operasional Ponpes dan Madrasah yang tidak sedikit, beliau memutar otak untuk mengembangkan tanah wakaf menjadi jauh lebih produktif dan profitable.

Wah, sudah agak panas ini, ayo kita ngobrol di ruang tamu saja. Sambil minum teh. Maklum saya sudah sepuh, gak bisa berdiri lama” Kyai Zakaria mengajak saya ke ruang tamu di rumahnya yang asri.

Tak lama seorang perempuan yang tidak terlalu muda mengantarkan teh untuk kami berdua. Saya melanjutkan obrolan. Maklum, jarang-jarang saya bertemu dengan orang yang kreatif tapi tetap membumi dan tawadhu seperti  Kyai Zakaria.

“Pak Kyai tanya lagi ya, jangan bosen” kata saya sambil sedikit tertawa. Pak Kyai juga ikut tertawa. “Terus ini hasilnya dijual ke mana?”

Kyai zakaria meminum tehnya sebentar. Baru menjawab tanya saya. “Ada yang langsung dijual, ada yang diolah dulu

Dahi saya mengkerut, “diolah bagaimana Pak Kyai?

Ya, ada yang bisa langsung dijual seperti lele dan ayam potong. Alhamdulillah sudah ada restoran yang menampung hasil panen di sini. Tapi ada juga yang kalau diolah lebih dulu harga jualnya makin tinggi. Misalnya seperti telur bebek yang kami olah jadi telur asin, lalu dijual ke supermarket. Ada juga ikan yang diolah jadi ikan asin lalu dijual langsung ke masyarakat sekitar Ponpes” Kyai Zakaria menjawab sambil beberapa kali tertawa kecil.

Saya menggeleng beberapa kali, “Masya Allah, Kyai kok ada aja idenya? Dengan dana terbatas, lahan tidak terlampau luas dan peralatan yang masih tradisional…kok bisa?”

Kyai Zakaria kembali tersenyum, “Alhamdulillah, ya, modal masih jadi kendala untuk pengelolaan wakaf produktif ini. Kalau saja ada bantuan dan perhatian dari Pemerintah, tentu lebih baik lagi. Apa boleh buat, sekarang Ponpes harus kreatif mencari sumber pendanaan agar bisa mandiri dan tidak bergantung dari donasi. Sedikit-banyak pengelolaan wakaf produktif ini bisa untuk subsidi murid yang kurang mampu di Ponpes dan Madrasah.”

Kali ini saya yang tersenyum, menginsafi perjuangan panjang Kyai Zakaria untuk mengemban amanah mengembangkan Ponpes dan pendidikan Islam. Kini Ponpes juga punya unit usah sendiri seperti koperasi dan bimbingan haji. Ada juga fasilitas kursus merias pengantin bagi santri putri. Ini agar para santri putri punya keahlian selepas keluar dari Ponpes.

Waktu Zhuhur akan tiba satu jam lagi. Kyai Zakaria harus bersiap-siap menjadi imam shalat. Saya pun pamit dan kembali ke kamar di pondok santri putri sebentar. Lalu menuju Surau, menyapu lantai dan menggelar karpet untuk persiapan shalat Zhuhur. Sudah itu saya mendaras Al Qur’an sambil menunggu Zhuhur.

Duh Gusti, tampaknya saya bukan sedang penelitian. Menjajal menjadi santri putri di Jawa Timur ternyata jauh berbeda dari yang saya bayangkan. Kita bisa fokus untuk belajar Islam di sini. Tidak diganggu dengan televisi atau hingar-bingar metropolitan. Rasanya tenang sekali.

Saya menyelesaikan shalat Zhuhur berjamaah bersama ibu-ibu yang tinggal di sekitar Ponpes. Selepas shalat saya keluar sebentar. Cari makan dan info dari warga sekitar. Sebagai peneliti, saya dituntut untuk bisa mendapatkan informasi sebanyak mungkin.

Saya menuju ke arah pasar. Kota pesisir ini panas sekali. Untunglah pasar bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Saya memilih warung soto ayam yang tidak terlalu besar untuk bersantap siang.

Entah karena lelah setelah berjalan di bawah terik matahari ataukah karena soto ini memang enak. Saya menghabiskan semangkuk soto dan satu piring nasi dengan cepat. Yah, rasa makanan tradisional di pinggir jalan memang lebih otentik daripada yang ada di mall. Harganya pun hanya Rp 5.000,00 saja.

Habis makan saya kembali berjalan kaki menuju Ponpes. Kiri dan kanan jalan dipenuhi rumah-rumah tua dengan warna cat cream, tosca dan torquise. Warna-warna vintage yang membawa kita seakan berada di era yang lain. Rumah di sini tinggi-tingi, tetapi cenderung lebih gelap dari di kota Gresik. Tampaknya lantai paling atas sengaja dibiarkan kosong dan gelap.

Mampir sini, Mbak” perempuan pemilik warung di dekat Ponpes memanggil saya. Saya tak punya alasan untuk menghindar.

Beli teh botol dan chiba-nya, Bu” saya spontan mengambil chiba. Sungguh saya ingat masa kecil saya yang terangkum dalam sebungkus chiba dan anakmas.

Pemilik warung memberikan saya teh botol yang masih dingin. “Tamu Bu Nyai ya?

Saya mengangguk takzim. Tak lama datang seorang perempuan paruh baya yang gemuk dan mulai susah berjalan. Dia duduk di depan saya dan bertanya pada pemilik warung tentang identitas saya. Pemilik warung bilang kalau saya tamu Ponpes.

Ini Hajjah Nana, masih sepupu Bu Nyai juga” ujar pemilik warung melihat gerak-gerik saya yang mulai kurang nyaman.

Saya meletakkan teh botol di kursi dan langsung mencium tangan Hajjah Nana. Beliau menyambut dengan ramah. Kami lalu bercakap. Saya cerita tentang tujuan saya untuk meneliti pengelolaan wakaf di Ponpes. Tiba-tiba saya teringat rumah-rumah yang tinggi dan gelap.

Rumah di sini besar-besar ya?” ujar saya sambil berhenti mengunyah chiba.

Pemilik warung mulai ikut ‘nimbrung’. “Iya, di sini tuh dulu zaman Orde Baru banyak orang Orang Kaya Baru (OKB)

Oh ya?” Rasa ingin tahu saya semakin memuncak

Iya, di sini kan dulu banyak pengusaha sarang burung wallet” pemilik warung terus bicara. “Tuh, Hajjah Nana, dulu juga pengusaha sarang burung wallet

Ooh…Hajjah Nana juga punya sarang burung wallet?” saya bertanya lagi.

Hajjah Nana menunjuk ke salah satu rumah yang paling besar dan tinggi, “itu rumah saya, sekarang tinggal sedikit. Dulu lantai paling atas rumah kami hampir semuanya dijadikan tempat untuk sarang burung wallet, tetapi keadaan berubah”

Kenapa Hajjah Nana?” saya menangkap ekspresi Hajjah Nana yang mendadak sedih.

Produksi sarang burung wallet menurun drastis. Industri dan polusi membuat wallet tak mau datang lagi. Lingkungan sudah rusak. Wallet tidak suka” Hajjah Nana masih terlihat sedih.

Pemilik warung kembali nimbrung. “Nah, pelan-pelan orang-orang kaya jadi bangkrut. Sejak sarang wallet semakin sedikit, orang-orang jadi kehilangan penghasilan

Duh, saya sedih mendengarnya. Kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri ternyata benar-benar berpengaruh pada ekonomi warga sekitar. Entah siapa yang harus bertanggung jawab. Pun bukit-bukit kapur di Ujungpangkah juga sudah mulai dikeruk.

Obrolan kami terhenti oleh Adzan Ashar. Saya pamit dan kembali ke Ponpes. Saat saya tiba, Ulfa dan Rahma sudah ada di sana. Mereka panik sekali. Anak-anak itu ternyata membawakan saya makanan karena khawatir saya belum makan. Duh, terharunya. Anak-anak ini manis sekali.

Seperti biasa, kami shalat berjamaah. Santri melanjutkan pembahasan kitab kuning sampai Maghrib. Lalu lanjut dengan les bahasa Inggris. Saya sendiri memilih untuk tidur lebih awal. Besok pagi-pagi sekali saya harus wawancara Ibu Nyai sambil menemani beliau berobat dan rapat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s